Living Curriculum Mulai Dikembangkan, Apakah K-13 Akan Diganti?

Diposting pada: 2017-01-17, oleh : Delta, Kategori: Tanpa Kategori

Kemdikbud Kembangkan Living Curriculum, Apa itu? - Bapak Menteri Muhadjir Effendy melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaa (Kembdikbud) terus berupaya memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Kali ini Kemdikbud sedang memikirkan nasib dan jalannya Kurikulum 2013 atau dikenal K-13. Sebuah konsep baru tengah dikembangkan yaitu Konsep Living Curriculum. Diamana sebuah konsep kurikulum yang hidup dengan frame tetap, tetapi implementasinya adaptif iteratif.

Plt. Pusat Kurikulum dan Buku (Puskurbuk) Kemendikbud Prof. Nizam mengungkapkan, konsep Living Curriculum dikembangkan karena pihaknya belum puas dengan hasil revisi kurikulum 2013 (K-13).
"Memang masih ada kekurangannya, tapi kan tidak bisa kita menunggu sempurna semuanya. Oleh karenanya kami kembangkan konsep living curriculum," ungkap Nizam kepada JPNN, Senin (31/10).
Nizam yang juga seorang kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan ini menambahkan, pihaknya mendorong Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan tim pengembang kurikulum agar menjadikan learning outcomes-nya lebih bermakna dan membumi.
|Baca Juga: Cara Melihat Rapor Dan Peringkat Sekolah Menggunakan Aplikasi Hasil Ujian Nasional 2016
Saat ini, kata Nizam, konsep pembaruan kurikulum selalu bentuknya overhaul keseluruhan (bongkar total). Di mana keseluruhan bangunan kurikulum seolah diubah, yang dampaknya luar biasa besar.
"Dari dokumen kurikulum, silabus, pembelajaran, sampai buku dan lembar kerja siswa berubah semua. Guru harus dilatih ulang secara keseluruhan. Mahal sekali biayanya, ramai sekali hebohnya," paparnya.
Padahal menurut Nizam, kandungan pengetahuannya sendiri (knowledge content) relatif tetap. Hukum Archimedes dari zaman dia hidup dua ribu tahun lalu sampai kiamat ya tetap sama. Sejarah Diponegoro dari zaman penjajahan sampai zaman orang mendarat di Planet Mars ya tetap sama.
"Yang berubah adalah kompetensi yang ingin dicapai, learning outcomes-nya. Dan itu sifatnya dinamis. berubah dengan waktu, berubah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berubah dengan perubahan sosial budaya masyarakat. Nah di sinilah konsep Living Curriculum tersebut," terangnya panjang lebar.
Lanjut dikatakan Nizam, mestinya kurikulum itu berubah secara dinamis dan fleksibel, sehingga selalu kontekstual dengan perkembangan zaman. Setiap praktik baik dan dinamika masyarakat dapat diadopsi dan masuk ke dalam penyempurnaan kurikulum.
Seperti halnya Curriculum Cambridge yang umurnya konon sudah labih dari 170 tahun, tapi selalu relevan dengan kemajuan zaman karena perubahannya terjadi secara organik, tumbuh dengan keadaan berdasarkan praktik baik yang terjadi di lapangan.
"Jadi revisi kemarin menjadi titik berangkatnya. Penyempurnaan terus dilakukan tapi secara perlahan berdasar umpan balik dari lapangan. Kalau konsep lama kan rumahnya dibongkar total, bangun rumah baru," pungkasnya.
Kita tunggu saja, apa sebenarnya implementasi dari konsep Living Curriculum ini. Harapannya adalah Kemendikbud mampu mengakomodir kemampuan daerah-daerah pinggiran untuk penerapannya. Jangan sampai yang bisa melaksanakan suatu program hanya sekolah-sekolah tertentu saja, semisal sekolah-sekolah kota.

Kemdikbud Kembangkan Living Curriculum, Apa itu? - Bapak Menteri Muhadjir Effendy melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaa (Kembdikbud) terus berupaya memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Kali ini Kemdikbud sedang memikirkan nasib dan jalannya Kurikulum 2013 atau dikenal K-13. Sebuah konsep baru tengah dikembangkan yaitu Konsep Living Curriculum. Diamana sebuah konsep kurikulum yang hidup dengan frame tetap, tetapi implementasinya adaptif iteratif.

Plt. Pusat Kurikulum dan Buku (Puskurbuk) Kemendikbud Prof. Nizam mengungkapkan, konsep Living Curriculum dikembangkan karena pihaknya belum puas dengan hasil revisi kurikulum 2013 (K-13).

"Memang masih ada kekurangannya, tapi kan tidak bisa kita menunggu sempurna semuanya. Oleh karenanya kami kembangkan konsep living curriculum," ungkap Nizam kepada JPNN, Senin (31/10).

Nizam yang juga seorang kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan ini menambahkan, pihaknya mendorong Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dan tim pengembang kurikulum agar menjadikan learning outcomes-nya lebih bermakna dan membumi.

|Baca Juga: Cara Melihat Rapor Dan Peringkat Sekolah Menggunakan Aplikasi Hasil Ujian Nasional 2016

Saat ini, kata Nizam, konsep pembaruan kurikulum selalu bentuknya overhaul keseluruhan (bongkar total). Di mana keseluruhan bangunan kurikulum seolah diubah, yang dampaknya luar biasa besar.

"Dari dokumen kurikulum, silabus, pembelajaran, sampai buku dan lembar kerja siswa berubah semua. Guru harus dilatih ulang secara keseluruhan. Mahal sekali biayanya, ramai sekali hebohnya," paparnya.

Padahal menurut Nizam, kandungan pengetahuannya sendiri (knowledge content) relatif tetap. Hukum Archimedes dari zaman dia hidup dua ribu tahun lalu sampai kiamat ya tetap sama. Sejarah Diponegoro dari zaman penjajahan sampai zaman orang mendarat di Planet Mars ya tetap sama.

"Yang berubah adalah kompetensi yang ingin dicapai, learning outcomes-nya. Dan itu sifatnya dinamis. berubah dengan waktu, berubah dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, berubah dengan perubahan sosial budaya masyarakat. Nah di sinilah konsep Living Curriculum tersebut," terangnya panjang lebar.

Lanjut dikatakan Nizam, mestinya kurikulum itu berubah secara dinamis dan fleksibel, sehingga selalu kontekstual dengan perkembangan zaman. Setiap praktik baik dan dinamika masyarakat dapat diadopsi dan masuk ke dalam penyempurnaan kurikulum.

Seperti halnya Curriculum Cambridge yang umurnya konon sudah labih dari 170 tahun, tapi selalu relevan dengan kemajuan zaman karena perubahannya terjadi secara organik, tumbuh dengan keadaan berdasarkan praktik baik yang terjadi di lapangan.

"Jadi revisi kemarin menjadi titik berangkatnya. Penyempurnaan terus dilakukan tapi secara perlahan berdasar umpan balik dari lapangan. Kalau konsep lama kan rumahnya dibongkar total, bangun rumah baru," pungkasnya.

Kita tunggu saja, apa sebenarnya implementasi dari konsep Living Curriculum ini. Harapannya adalah Kemendikbud mampu mengakomodir kemampuan daerah-daerah pinggiran untuk penerapannya. Jangan sampai yang bisa melaksanakan suatu program hanya sekolah-sekolah tertentu saja, semisal sekolah-sekolah kota.

sumber : http://www.mardiyas.com/2016/11/living-curriculum-mulai-dikembangkan.html


Berita Lainnya




Notice: Use of undefined constant status_komentar - assumed 'status_komentar' in /home/sman8tan/public_html/file/tema/edisi_spesial/konten.php on line 459

Tinggalkan Komentar


Nama *
Email * Tidak akan diterbitkan
Komentar *
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini